Generasi Muda Kuatkan Identitasmu!
Identitas adalah sesuatu yang tidak akan
pernah lepas dari kehidupan manusia. Sejak kecil identitas sudah melekat dalam
diri seorang pribadi. Seorang bayi diidentitaskan sebagai manusia mula-mula
yang sangat lemah. Yang tak dapat melakukan apa-apa sendiri. Ketika umur sudah
mencapai lima tahun, sang anak sudah dapat disekolahkan di Taman Kanak-kanak
(TK). Bahkan ada beberapa anak yang sekolah lebih cepat. Di umur-umur balita
itu, anak-anak dihadapkan pada pengenalan akan keluarga, dan bagaimana
berbicara yang baik. Terkesan aktif, anak di usia balita juga sangat mudah
meniru apa yang didengar dan dilihatnya. Sehingga usia lima tahun ke bawah itu
disebut sebagai masa-masa emas. Karena karakter awal anak tumbuh, dari usia
tersebut. Belum lagi ketika sang anak memasuki usia 6 tahun. Saat itu,
umumnya anak sudah mampu berbicara
dengan baik. Di jenjang SD, biasanya sang anak diidentitaskan masih lugu. Dan
merupakan tahap perkembangan lebih lanjut dalam pengenalan-pengenalan
lingkungan sosial masyarakat. Hingga sang anak masuk ke jenjang pendidikan SMP
hingga SMA. Masa tersebut, dijuluki sebagai masa transisi. Antara karakter
kekanak-kanakan menuju dewasa. Biasa disebut juga masa labil.
Di usia emas ini, mereka disebut juga generasi muda. Generasi yang kebanyakan orang menyebutnya sebagai masa yang menyebalkan, adalah masa-masa yang membingungkan, selalu diharapkan melakukan ini dan itu, selalu diperintah melakukan ini dan itu, dituntut supaya menjadi ini dan itu.Namun juga di sanalah pelajaran-pelajaran kehidupan dapat dikutip. Melewati pencarian jati diri, mernemukan teman-teman baru, serta memiliki adrenalin yang tinggi, adalah hal-hal yang paling menyenangkan di masa-masa muda. Sehingga banyak sekali spekulasi tentang bagaimana dan apa sikap yang harus dilakoni dalam memenuhi masa-masa muda yang sebentar itu. Apa memang masa muda harus dihabiskan dengan bermain-main dan mengumpulkan pengalaman? Toh, kita ini masih muda, bukan? Banyak kegiatan yang harus dilakukan? Banyak yang mau dicoba? Kalau masa depan kan masih panjang, ngapain, repot-repot ? Sebagai generasi muda, identitas itu adalah hal yang wajib untuk dipahami.
Di usia emas ini, mereka disebut juga generasi muda. Generasi yang kebanyakan orang menyebutnya sebagai masa yang menyebalkan, adalah masa-masa yang membingungkan, selalu diharapkan melakukan ini dan itu, selalu diperintah melakukan ini dan itu, dituntut supaya menjadi ini dan itu.Namun juga di sanalah pelajaran-pelajaran kehidupan dapat dikutip. Melewati pencarian jati diri, mernemukan teman-teman baru, serta memiliki adrenalin yang tinggi, adalah hal-hal yang paling menyenangkan di masa-masa muda. Sehingga banyak sekali spekulasi tentang bagaimana dan apa sikap yang harus dilakoni dalam memenuhi masa-masa muda yang sebentar itu. Apa memang masa muda harus dihabiskan dengan bermain-main dan mengumpulkan pengalaman? Toh, kita ini masih muda, bukan? Banyak kegiatan yang harus dilakukan? Banyak yang mau dicoba? Kalau masa depan kan masih panjang, ngapain, repot-repot ? Sebagai generasi muda, identitas itu adalah hal yang wajib untuk dipahami.
Namun, dewasa ini begitu banyak identitas
yang melekat dalam diri seorang manusia muda. Sehingga terkadang generasi muda,
seakan dibutakan dengan fase yang sedang dialaminya sekarang. Begitu banyak
identitas. Begitu banyak cap. Begitu banyak penggambaran. Sehingga terkadang
kita tidak tahu, apa yang harus dilakukan di masa muda ini. Muda. Sebelumnya,
apa itu generasi muda? Generasi muda adalah generasi yang dalam seangkatannya
adalah pribadi-pribadi yang memiliki usia muda. Lalu berapa usia yang masuk
dalam jajaran generasi muda? Sumber-sumber yang terkait, memberikan pendapat
yang berbeda-beda.Tidak semua refrensi sama dan memberikan pernyataan yang
serupa. Contohnya saja Komisi Penanggulangan Aids Nasional (KPA) menyatakan
bahwa generasi muda adalah mereka-,mereka yang berusia 15-29 tahun. Di kutip
dari buku “Pendidikan Politik bagi Generasi Muda dan Keputusan Badan Koordinasi
Penyelenggaraan Pembinaan dan Pengembangan Generasi Muda No.01/BK Tahun 1982
tentang Petunjuk Pelaksaan Pendidikan Politik Bagi Generasi Muda” dapat diambil
refrensi bahwa menurut Kementrian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) bahwa usia
muda berada dalam jenjang 13-35 tahun. Rentang umur itu sama seperti yang
ditetapkan juga oleh Komisi Kepemudaan KWI. Sedangkan PBB memberlakukan paham,
bahwa usia muda berada dalam jenjang 11-25 tahun.
Nah, berapa pun umur yang ditetapkan sebagai
bagian dari generasi muda, tidaklah penting. Karena yang paling vital adalah
bagaimana semangat muda yang kita miliki tersebut dapat kita salurkan ke dalam
berbagai kegiatan-kegiatan yang positif. Karena generasi muda adalah pihak yang
paling diunggulkan dalam pembangunan nasional. Citra generasi muda Indonesia
selama ini sudah cukup baik. Dengan prestasi-prestasi yang cukup membangkan
negeri ibu pertiwi ini. Pemenang olimpyade, penyanyi muda yang sudah go international, pemiliki situs
internet yang sangat mapan, para atlet yang punya potensi di ajang dunia
bergengsi, penulis yang karyanya sudah best seller di luar negeri, dan segudang
prestasi lainnya. Namun tidak menutup pada hal-hal berbau negative, masih ada
beberapa kabar yang tidak sedap yang menyandera kepercayaan masyarakat terhadap
generasi muda. Seperti kasus narkoba. Jumlah pemakai narkoba di Indonesia
didominasi oleh generasi muda. Sebanyak 3,8 juta di tahun 2012 anak-anak bangsa
mengkonsumsi narkoba, dan meningkat 4,7 juta anak muda sudah mengkonsumsi
Narkoba di tahun 2013 , namun data dari Kemenpora ini belum lah dapat
dipercaya. Bila dibandingkan data dari PBB , yang menyatakan bahwa pecandu
narkoba di Indonesia ada sekitar 47 juta jiwa. Ini tentu angka yang
mencengangkan bila benar adanya. Namun data mana pun yang menuju kepastian,
angka menunjukkan bahwa pencandu narkoba di Indonesia, memberikan indikasi
peningkatan tiap tahunnya. Juga jumlah anak bangsa yang mengidap HIV/Aids
mencapai kuang lebih 200.000 jiwa. Tentunya ini mencemari citra generasi muda,
baik di dalam masyarakatnya maupun luar negeri. Belum sampai disitu saja,
tawuran antar pelajar, kasus geng motor, pencurian, serta tindakan kriminalitas
yang diprakrsai oleh anak muda semakin hari semakin banyak.
Tentunya hal ini harus segera ditanggulangi.
Jangan sampai generasi muda menjadi generasi yang dicap buruk di mata
masyarakat. Identitas generasi muda sebagai generasi yang cinta tanah air dan
setia membela negara harus ditekankan dalam diri setiap insan muda sejak
sekarang. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk membuktikan diri cinta pada
negeri, yakni:
1. Berprestasi
Sebagai generasi muda, prestasi adalah salah satu bagian dari kehidupan
yang umumnya sangat ingin diraih. Baik itu prestasi dalam cakupan sempit
seperti sekolah, maupun sampai internasional. Bila setiap generasi muda berpacu
untuk meriah prestasi, penulis yakini grafik pembangunan nasional pasti mampu
meningkat, walaupun perlahan. Karena daya saing menentukan nilai suatu
kompetisi.
2. Berkarakter
Prestasi tanpa karakter adalah sia-sia. Prestasi harus diiringi karakter
yang baik juga. Jangan sampai ilmu yang telah diperoleh tidak diwujudkan sebagai
partisipasi dalam pembangunan nasional, namun malah merusaknya. Tentunya
karakter dan nilai moral adalah hal yang sangat penting dalam pembangunan
nasional.
3. Cinta Tanah Air
Cinta tanah air berarti ikut membela negeri ini ketika sedang dilanda
permasalahan. Ikut menjaga ketertiban dan keamanan negara dan menjadi warga
negara yang baik. Dengan kepatuhan terhadapa hukum yang berlaku di negara,
tentunya harmoni akan terwujud secara bertahap. Dan ini mendukung kemajuan
bangsa. Sebagai generasi muda, seharusnya memiliki sikap cinta tanah air yang
loyal.
Dan begitu lah. Siapa lagi yang mampu membangun negeri ini dengan
sepenuh hati kalau bukan dari generasi mudanya sendiri? Ayo generasi muda,
kuatkan identitasmu yang berprestasi, berkarakter, dan cinta tanah air! Ayo
kita bangun negeri ini!
Daftar Pustaka :
Tempo.Co
ManadoNews.Com
Kompas.com
KomkepMakassar.Blogspot.Com
No comments:
Post a Comment