Tema :
Praktik Pelayanan Kesehatan di Indonesia
Banyak sekali orang
yang mementingkan kekayaan, mendewakannya, dan melupakan kesehatan. Bekerja
siang dan malam, memeras pikiran, tenaga, dan berakhir di rumah sakit. Tapi
bukanlah rasa cemas akan biaya yang meliputi orang itu, karena dengan kerja
kerasnya orang itu dapat memperoleh kemapanan finansial. Dan kemapanan itu akan
membawanya kepada akses kesehatan yang baik..
Memang, mapan dalam
keuangan adalah kekuatan untuk mendapat perobatan yang layak. Orang berkocek
tebal mampu mendapat pelayanan kesehatan,sekalipun itu di tempat termahal.
Namun bagaimana dengan orang yang berpendapatan rendah?
Rakyat Indonesia
yang berjumlah 250 juta, sangat memerlukan akses kesehatan. Merujuk kepada
slogan tidak resmi, “ Orang miskin tak
boleh sakit” maka dapat kita tarik kesimpulan bahwa tak semua orang akan
mendapat pelayanan kesehatan yang maksimal. Karena tidak semua orang kaya. Orang-orang
yang berkocek tipis atau kantong kering tanpa dukungan pemerintah, tidak
dipungkiri mendapat respon lambat dalam berobat.
Saya sering
mendengar slogan di atas. Bahwa orang miskin tidak dianjurkan untuk sakit.
Karena katanya biaya perawatan kesehatan sangat mahal. Entahlah, tapi slogan di
atas tidak pernah berlaku dalam hidup saya.
Perkenalkan, saya
adalah seorang penulis yang masih berstatus pelajar. Saya bersekolah di SMAN 15
Medan . Suatu
kebanggaan buat saya diizinkan menilai praktek kesehatan di Indonesia. Dizinkan
untuk memberi pandangan tentang sistem wajah dan regulasi kesehatan di
Indonesia. Karena saya pelajar, saya akan menggunakan sudut pandang pelajar
yang hidupnya masih tergantung pada kesehatan dan kondisi keuangan orang tua.
Ayah saya hanyalah
penjaga keamanan di sebuah supermarket, dan ibu yang berstatus sebagai buruh
pabrik. Membaca profesi tersebut dapat ditebak bagaimana kondisi keuangan kami
sekeluarga. Begitupun, saya tidak pernah melihat wajah yang cemas dari mereka
(orang tua saya) yang diakibatkan oleh mahalnya biaya perobatan. Karena kedua
orang tua saya menggunakan Kartu Jaminan Sosial Tenaga Kerja atau sering disingkat
Jamsostek. Baru-baru ini, tepatnya 31 Oktober 2013 lalu, saya mengalami sakit
di bagian pencernaan. Dokter memvonis saya mengalami asam lambung. Saya takut
sekali menunggu keputusan dokter. Apakah akan rawat inap atau cukup diberi obat
dan dibiarkan pulang. Saat itu saya dirawat di Klinik Millenium, sebuah klinik
yang berbasis di Medan.
Saya sangat cemas.
Kecemasan itu beralasan. Yang pertama, saya takut tidak dapat sekolah bila dirawat
inap. Karena ketika itu saya akan menghadapi ujian tengah semester di sekolah.
Yang kedua saya takut menyoal anggaran kesehatan yang kabarnya sekali
berkonsultasi dengan dokter akan sangat mahal. Mengingat kondisi keuangan
keluarga yang sudah banyak dihabiskan buat biaya pendidikan, hati saya jadi
miris.
Tapi puji Tuhan saya
mendapatkan jawaban yang melegakan. Bahwa saya tidak perlu dirawat inap. Hanya
perlu diberi obat. Tapi aneh bin aneh. Tidak ada kecemasan dari wajah kedua
orang tua saya. Obat yang diberi dokter
sangat banyak. Yang satu katanya untuk meredakaan pening di kepala, karena
dokter mengatakan bahwa ketika asam lambung kepala bisa sewaktu-waktu mengalami
pening. Obat lainnya obat untuk mencegah mual, obat untuk menetralkan asam
lambung, obat untuk meredakan rasa sakit, obat untuk menguatkan selera makan,
karena katanya ketika asam lambung, orang yang terjangkit akan sangat lesu dan
tidak selera makan. Dan masing-masing obat punya banyak jenis dan kuantitas
yang beragam. Ada
obat tablet, ada obat sirup, dan lain sebagainya. Dalam hati saya berpikir,
apakah obat-obat ini tidak mahal? Karena yang saya baca di media-media massa,
harga obat-obatan bisa lebih mahal dari biaya konsultasi dokter itu sendiri.
Kalau konsultasi di dokter harganya bisa mencapai Rp.200.000,- maka biaya
menebus obat bisa mencapai jutaan bahkan puluhan juta rupiah. Tapi ketika
membayangkan harga yang membengkak itu, orang tua menepuk pundak saya lalu
tersenyum. Mereka menunjukkan Kartu Jamsostek dan mengajak saya pulang. Kartu
Jamsostek itu mengobati semua kegelisahan. Tanpa biaya konsultasi, biaya
obat-obatan, dan tanpa proses yang lambat, kartu Jamsostek itu benar-benar
meringankan beban biaya kesehatan bagi keluarga saya.
Begitulah yang saya alami. Dan saya sakit
tidak hanya saat itu saja. Dulu sekali saya terjangkit tipus. Empat tahun
berturut-turut sejak kelas 1 SD saya terjangkit tipus. Dan saya sudah sering
keluar masuk rumah sakit. Di rawat inap juga merupakan hal biasa. Tapi tak
pernah wajah kedua orang tua saya cemas. Katanya Kartu Jamsostek mampu
menggantikan segala biaya pengobatan. Saya sangat beruntung mendengar hal
tersebut.
Tapi berbanding
terbalik dengan sepupu saya. Yang beberapa minggu setelah saya sakit, ia
menyusul dengan penyakit yang lebih parah. Demam berdarah. Ia dirawat inap
selama satu minggu lamanya. Akan tetapi keluarganya tidak memiliki Kartu
Jamsostek. Jadilah biaya Rp.8000.000,- menjadi tanggungan mereka. Bukan
bermaksud membandingkan, hanya saja sebagai pelajar saya merasa lebih aman
memiliki keluarga yang sudah punya asuransi nasional di Jamsostek.
Melihat realita
yang ada, yang mana banyak orang protes tentang biaya kesehatan yang mahal,
saya rasa yang menjadi permasalahannya adalah kurang merakyatnya asuransi
nasional, Jamsostek, Jamkesmas dan beberapa turunannya di kalangan masyarakat.
Sehingga bagi orang-orang yang kurang mampu keuangannya, merasa terbebani
dengan biaya kesehatan itu.
Saya sempat membaca
tulisan di dari Kementrian Kesehatan
RI , tentang aturan Jamkesmas.
Berikut saya salinkan apa yang saya baca.
“Sesuai dengan ketentuan, program Jamkesmas
tidak boleh membebani pasien Jamkesmas dengan biaya apapun dan dengan alasan
apapun. Oleh karena itu tidak boleh ada yang melanggar ketentuan pelaksanaan
Jamkesmas dan harus dilaksanakan oleh semua rumah sakit yang melaksanakan
pedoman Jamkesmas”
(Lapor.Ukp.Go.Id)
Orang tua saya juga mengatakan apabila
saya mau berobat sendiri , bisa langsung dilakukan dengan kartu Jamsostek ini karena
prosesnya cepat dan pelayanannya memuaskan. Dan memang sudah saya alami
sendiri. Apalagi Jamsostek sekarang sudah tersebar di banyak sekali rumah
sakit. Begitupun di Medan. Di sekitar rumah saya saja, ada dua rumah sakit dan
beberapa klinik. Di setiap kecamatan bisa mencapai lima rumah sakit dan puluhan klinik. Inilah
yang menjadi kemudahan pasien Jamsostek atau Jamkesmas.
Namun semua
kemudahan itu tidak lah merata. Sewaktu saya melakukan perjalanan rohani ke
Salib Kasih, Tarutung pada tahun 2009, saya terkejut mendengar dari snag
pemandu bahwa di Tarutung hanya ada satu buah rumah sakit daerah. Itu pun
kurang lengkap fasilitasnya, sehingga kebanyakan masyarakatnya lebih memilih
pergi berobat ke luar kota untuk mendapat penanganan kesehatan yang lebih baik
seperti kota Pematang Siantar. Tapi mengingat pembangunan daerah tertinggal
sudah gencar dilakukan, maka fasilitas kesehatan di sana juga berangsur-angsur akan ditingkatkan.
Menurut Wikipedia, tanah indah dan religius itu dihuni oleh 39.541 jiwa pada
tahun 2010. Dan karena jumlah penduduk itu sangat besar, diharapkan pemerintah
di sana lebih peduli supaya tidak terjadi kesenjangan mutlak antara jumlah
rumah sakit di pedesaan dan perkotaan .Juga supaya warga kabupaten di sana
tidak perlu jauh-jauh pergi ke luar kota untuk mendapat pelayanan kesehatan.
Baru-baru ini juga,
saya menonton di televisi tentang program BPJS Kesehatan untuk seluruh
masyarakat Indonesia. Dimulainya program ini katanya pada awal tahun 2014. Disebutkan
bahwa program BPJS Kesehatan ini adalah program asuransi skala nasional, dan
diharapkan mampu menjawab tantangan dari sulitnya akses kesehatan bagi
orang-orang miskin. Bedanya dengan asuransi lain, BPJS Kesehatan adalah lembaga
nirlaba, sehingga kepentingannya dibangun untuk melayani rakyat. Harapan
penulis, semoga program BPJS Kesehatan ini memang tulus untuk rakyat, dan lebih
baik dari program-program kesehatan lainnya.
Karena BPJS Kesehatan ini adalah program gotong royong, dimana yang kuat
menanggung yang lemah dan yang kaya menanggung yang miskin, sangat tepat bila
program ini dikatakan sejalan dengan Pancasila. Bung Karno, Presiden RI
pertama yang merumuskan Pancasila pernah berkata: “ Pancasila dapat diuraikan menjadi 20, 50, 100, bahkan 1000 bagian.
Dan jika saya peras yang lima ini menjadi satu, maka dapatlah saya satu
perkataan Indonesia tulen, yaitu perkataan Gotong-Royong.
Gotong-Royong adalah pembantingan tulang bersama, pemerasan keringat bersama,
perjuangan bantu membantu sesama. Amal semua buat kepentingan semua. Keringat
semua buat kebahagiaan semua. Holopis-kuntul-baris- buat kepentingan bersama.
Itulah Gotong Royong!”
Senang rasanya melihat pemerintah memperlakukan
dengan adil masyarakatnya. Membuat program yang memenangkan hati rakyatnya. Apalagi
yang membutuhkan bantuan kesehatan. Melihat senyum dari mereka yang sembuh, dan
melihat lega dari mereka yang ikhlas merawat.
Maju terus kesehatan Indonesia, maju terus Indonesia ku!
Dukung terus pemerintah wujudkan Indonesia sehat!
Untuk Forum Peduli Kesehatan Rakyat, 11 November 2013.
Andre
Salmon , SMAN 15 Medan
No comments:
Post a Comment